Jumat, 11 November 2011


I.       PENDAHULUAN
1.1       Latar Belakang
Laut mempunyai arti  penting bagi kehidupan makhluk hidup seperti manusia, ikan, tumbuh-tumbuhan, dan biota laut lainya. Hal ini menunjukkan bahwa sektor kelautan  mempunyai potensi yang sangat besar untuk dapat ikut mendorong pembangunan di masa kini maupun masa depan. Oleh karena itu, laut yang merupakan satu  sumber  daya alam, sangat perlu untuk dilindungi. Hal ini berarti pemanfaatannya harus dilakukan dengan bijaksana dengan memperhitungkan kepentingan generasi sekarang dan yang akan datang. Agar laut dapat bermanfaat secara berkelanjutan dengan tingkat mutu yang diinginkan, maka kegiatan pengendalian dan/atau perusakan laut menjadi sangat penting. Pengendalian pencemaran dan/atau perusakan ini merupakan salah satu bagian dari kegiatan pengelolaan lingkungan hidup. Akhir-akhir ini pencemaran laut  telah menjadi suatu masalah yang perlu ditangani secara sungguh-sungguh. Hal ini berkaitan dengan semakin meningkatnya kegiatan manusia dalam usaha memenuhi kebutuhan hidupnya. Di samping menghasilkan produk-produk yang diperlukan bagi kehidupannya, kegiatan manusia menghasilkan pula produk sisa  (limbah) yang dapat menjadi bahan pencemar (polutan). Cepat atau lambat polutan itu sebagian akan sampai di laut. Hal ini perlu dicegah atau setidak-tidaknya dibatasi hingga sekecil mungkin.
Pencemaran adalah proses masuknya zat-zat atau energi ke dalam lingkungan oleh aktifitas manusia secara langsung yang mengakibatkan terjadinya pengaruh yang merugikan sedemikian rupa sehingga pada akhirnya akan membahayakan manusia, merusak lingkungan hayati (sumberdaya hayati) dan ekosistem serta mengurangi atau menghalangi kenyamanan dan penggunaan lain yang semestinya dari suatu sistem lingkungan.
Karena begitu berbahaya nya pencemaran bagi organisme atau makhluk hidup lainnya, maka praktik Pencemaran Laut ini dilakukan di Perairan Akkarena, karena dianggap perairan ini cukup bagus untuk mengukur parameter yang berkaitan dengan pencemaran.

1.2       Tujuan Praktikum
Praktikum Pencemaran Laut ini betujuan untuk mengetahui parameter pencemar yang ada di perairan Akkarena Makassar.
1.3       Kegunaan Praktikum
Kegunaan dari Praktikum ini adalah agar dapat memahami dan mengetahui cara menentukan dan  indikator  kualitas air laut dengan melihat parameter pencemar yang ada di dalam air laut pada suatu wilayah perairan laut.

























II.       TINJAUAN PUSTAKA

2.1  Pencemaran Laut
Pencemaran adalah proses masuknya zat-zat atau energi ke dalam lingkungan oleh aktifitas manusia secara langsung yang mengakibatkan terjadinya pengaruh yang merugikan sedemikian rupa sehingga pada akhirnya akan membahayakan manusia, merusak lingkungan hayati (sumberdaya hayati) dan ekosistem serta mengurangi atau menghalangi kenyamanan dan penggunaan lain yang semestinya dari suatu sistem lingkungan. UNEP (1980) dalam Romimohtarto (1991)
Berdasarkan PP No.19/1999, pencemaran laut diartikan sebagai masuknya/ dimasukkannya makhluk hidup, zat, energi, dan/atau komponen lain ke dalam lingkungan laut oleh kegiatan manusia sehingga kualitasnya turun sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan lingkungan laut tidak sesuai lagi dengan baku mutu dan /atau fungsinya (Pramudianto, 1999).
Sedangkan Konvensi Hukum Laut III (United Nations Convention on the Law of the Sea = UNCLOS III) mengartikan bahwa pencemaran laut adalah perubahan dalam lingkungan laut termasuk muara sungai (estuaries) yang menimbulkan akibat yang buruk sehingga dapat merusak sumber daya hayati laut (marine living resources), bahaya terhadap kesehatan manusia, gangguan terhadap kegiatan di laut termasuk perikanan dan penggunaan laut secara wajar, menurunkan kualitas air laut dan mutu kegunaan serta manfaatnya (Siahaan, 1989 dalam Misran, 2002).
2.2  Parameter Pencemar
Parameter pencemaran terdiri dari beberapa yakni diantaranya:
2.2.1        Suhu
Sebagian besar makhluk hidup di perairan tawar pada umumnya sangat sensitif terhadap perubahan suhu air. Suhu sangat terkait dengan proses metabolisme dalam tubuh, yaitu memengaruhi kerja enzim dalam tubuh makhluk hidup. Oleh karena itulah suhu merupakan faktor penting dalam kehidupan organisme perairan tawar. Suhu juga berpengaruh terhadap berbagai hal, misalnya blooming alga, siklus reproduksi, dan kelarutan berbagai macam zat.Suhu di ekosistem perairan tawar mudah berubah.
Perubahan suhu baik musiman dan harian terjadi pada bagian permukaan dari perairan, sementara bagian dalam biasanya akan lebih konstan. Suhu rata-rata perairan bisa mengalami kenaikan disebabkan oleh aktivitas manusia, seperti pemukiman, industri dan area pertanian.
Suhu secara fisika dinyatakan dalam satuan 0C. Metode pengukuran dilakukan dengan menggunakan thermometer atau termistor. Termistor merupakan alat pengukur suhu berbasis elektronik. Lokasi pengambilan sampel suhu air dapat dilakukan pada tiga level kedalaman, yaitu permukaan, pertengahan dan dasar perairan. Pengukuran juga dilakukan pada tiap musim yang berbeda, misalkan pada musim hujan dan kemarau.
2.2.2        Salinitas
Salinitas adalah kadar garam terlarut dalam air. Satuan salinitas adalah per mil (‰), yaitu jumlah berat total (gr) material padat seperti NaCl yang terkandung dalam 1000 gram air laut (Wibisono, 2004). Salinitas merupakan bagian dari sifat fisik-kimia suatu perairan, selain suhu, pH, substrat dan lain-lain. Salinitas  dipengaruhi oleh pasang surut, curah hujan, penguapan, presipitasi dan topografi suatu perairan. Akibatnya, salinitas suatu perairan dapat sama atau berbeda dengan perairan lainnya,misalnya perairan darat, laut dan payau. Kisaran salinitas air laut adalah 30-35‰, estuari 5-35‰ dan air tawar 0,5-5‰ (Nybakken, 1992).
2.2.3        pH
Kondisi asam atau basa pada perairan ditentukan berdasarkan nilai pH (power of hydrogen). Nilai pH berkisar antara 0-14, yang mana pH 7 merupakan pH normal.Kondisi pH kurang dari 7 menunjukkan air bersifat asam, sedangkan pH di atas 7 menunjukkan kondisi air bersifat basa. Makhluk hidup atau biota perairan tawar masing-masing memiliki kondisi pH yang berbeda-beda. Pengaruh pH pada biota terletak pada aktivitas enzim, misalnya dalam pH asam, enzim akan mengalami protonasi.
Keasaman juga berpengaruh pada tingkat kelarutan suatu nutrien dalam perairan, yang menentukan keberadaan suatu organisme. Polusi juga bisa diindikasi dari pH yang terkait dengan konsentrasi oksigen (pH rendah pada konsentrasi oksigen rendah). Keasaman ditentukan dengan memakai kertas pH universal dan pH meter. Pengukuran dilakukan dengan variasi waktu siang dan malam. Langkah tersebut didasarkan pada perbedaan aktivitas biota pada siang dan malam hari.Pengambilan lokasi bisa dilakukan dengan berbagai cara, seperti transek pada kedalaman yang berbeda dan tempat-tempat yang memiliki potensi menimbulkan pencemaran (sumber pencemaran terpusat).
2.2.4    Dissolved Oxygen (DO)
            Dissolved Oxygen atau oksigen terlarut sangat menentukan kehidupan biota perairan. Oksigen merupakan akseptor elektron dalam reaksi respirasi, sehingga banyak dibutuhkan oleh biota aerobik. Oksigen juga memengaruhi kelarutan dan ketersediaan berbagai jenis nutrien dalam air. Kondisi oksigen terlarut yang rendah memungkinkan adanya aktivitas bakteri anaerobik pada badan air.
Oksigen terlarut dipengaruhi oleh beberapa hal, antara lain penutupan vegetasi, BOD (Biological Oxygen Demand), perkembangan fitoplankton, ukuran badan air, dan adanya arus angin.Pengukuran oksigen terlarut bisa dilakukan dengan metode sensor oskigen elektronik dan titrasi Winkler. Hasil pengukuran berada pada satuan persen (%) dan mg/L. Pengukuran dilakukan pada variasi siang dan malam serta pada musim yang berbeda. Penentuan siang malam menentukan disebabkan karena adanya aktivitas respirasi dan fotosintesis pada siang hari, sedangkan musim untuk mengetahui pengaruh perbedaan aktivitas makhluk hidup tergantung musim pada kadar oksigen terlarut.
2.2.5        Chemical Oxygen Demand (COD)
Pengukuran COD digunakan untuk mengetahuipenggunaan oksigen untuk menguraikan bahan organic dalam air secara sempurna menjadi H2O. COD menggambarkan penguraian bahan organic baik yang mudah terurai maupun yang sulit terurai. Pengukuran ini penting untuk perairan yang tercemar oleh polutan yang umumnya terdiri dari bahan organic. Nilai COD umumnya lebih besar dari nilai BOD. Prinsip analisa COD bahwa semua bahan organic dapat dioksidasi secara sempurna menjadi CO2 dan H2O dengan bantuan oksidator kuat dalam keadaan basa.



2.2.6        Total Suspended Solid (TSS)
Padatan tersuspensi total ini dipengaruhi oleh bahan-bahan tersuspensi seperti lumpur, pasir, bahan organik dan anorganik, plankton serta organisme mikroskopik lainnya. Analisis TSS dibentuk dari pengukuran berat kering meteri tersuspensi yang tertinggal oleh suatu penyaringan pada temperature tertentu.
2.2.7        Biochemical Oxygen Demand (BOD)
BOD menunjukkan jumlah oksigen yang dikonsumsi untuk respirasi mikroba aerob yang terdapat dalam botol BOD yang diinkubasi pada suhu sekitar 20 ºC selama lima hari, dalam keadaan tanpa cahaya. Pemeriksaan BOD diperlukan untuk menentukan beban pencemaran air buangan penduduk atau industri dan untuk mendesain sistem-sistem pengolahan biologis bagi air yang tercemar.
Pada penentuan nilai BOD, hanya dekomposisi tahap pertama yang berperan. BOD hanya menggambarkan bahan organik yang dapat didekomposisi secara biologi (biodegradable). Bahan ini dapat berupa lemak, protein, kanji (starch), glukosa, aldehida, ester, dan sebagainya. Dekomposisi selulosa secara biologis berlangsung relatif lambat. Bahan organik merupakan hasil pembusukan tumbuhan dan hewan yang telah mati atau hasil buangan dari limbah domestik dan industri (Effendi,2003).
2.3    Wisata Pantai dan Baku Mutu
Baku mutu air adalah batas atau kadar makhluk hidup, zat energi atau komponen lain  yang ada atau harus ada dan atau unsur pencemar yang ditenggang  adanya dalam air pada  sumber air tertentu sesuai dengan peruntukannya. Di dalam Peraturan pemerintah  Republik Indonesia Nomor 082 Tahun 2001 tentang  Pengendalian Pencemaran Air, air dikelompokan menjadi empat kelas yaitu :
1. Kelas I, yaitu air yang dapat digunakan  sebagai air minum secara langsung tanpa pengelolahan terlebih dahulu:
2. Kelas II, yaitu  air yang dapat digunakan  sebagai air baku air minum:
3. Kelas III, yaitu air yang dapat digunakan untuk keperluan perikanan dan peternakan:
4. Kelas IV, yaitu air yang dapat digunakan untuk keperluan pertanian, dan dapat dimanfaatkan untuk usaha  perkotaan, industri, pembangkit listrik tenaga air.
Berkenaan dengan baku mutu air tersebut, Asdak (2005: 27-35) mengutip pendapatan beberapa ahli sebagai berikut:
Sudarmadji dan Sutanto (1990) mengelompokkan faktor-faktor yang mempengaruhi  kualitas airtanah  menjadi dua yaitu (1) faktor alami, meliputi geologi, tanah, vegetasi, dan iklim dan  (2) faktor buatan, meliputi limbah domestik, pupuk, limbah pertanian, insektisida dan pestisida, dan limbah industri.
Sitanala Arsyad (1989): Kualitas air menyatakan tingkat kesesuaian  air untuk dipergunakan  bagi pemenuhan  tertentu  bagi kehidupan manusia, seperti untuk mengairi tanaman, minuman ternaknya dan kebutuhan langsung  untuk minum, mandi mencuci dan sebagainya. Kualitas air ditentukan oleh kandungan sedimen tersuspensi dan bahan kimia  yang terlarut  dalam air tersebut.
Sedangkan Sharpe dan Dewalee dalam Richard Lee(1988) mengatakan bahwa Pada setiap titik  dalam gerakan melalui  ekosistem  kualitas air diberi batasan dengan menggunakan karasteristik-karasteristik fisika, kimia dan biologinya.Lebih lanjut dikatakan bahwa karena semua air alami terkontaminasi (tidak murni) maka adalah penting membedakan  antara kontaminasi alami  atau normal dan tingkat lainnya yang dapat dilacak secara langsung  maupun tidak langsung pada kegiatan-kegiatan manusia. Sebagai suatu cara  yang praktis, sumber-sumber pencemar  yang disebabkan  oleh manusia biasanya diidentifikasikan  dengan membandingkan  kualitas air dengan rata-rata  atau latar belakang  kontaminasi pada kawasan yang sama, namun tidak dipengaruhi oleh sumber yang dicurigai.Standar kualitas air adalah harga-harga yang ekstrim (biasanya minimum) yang digunakan untuk menunjukkan  tingkat-tingkat konstituen-konstituen  atau sifat-sifat dimana  air menjadi ofensif secara estetik, tidak sesuai secara ekonomik maupun tidak layak secara higienik untuk beberapa penggunaan yang dimaksudkan.
Dalam mengevaluasi  kekayaan air, maka keadaan kualitasnya sama penting  dengan kuantitasnya. Sifat-sifat  kimia, dan bakteri sangat menentukan penggunaan air  untuk penyediaan air minum, irigasi, industri dan lain-lainnya.Kualitas air di suatu wilayah  tidak selalu tetap, melainkan dapat berubah oleh adanya pencemaran. Kualitas yang tadinya  memenuhi syarat–syarat utuk dipakai suatu kebutuhan, seperti air minum pada suatu saat  kualitasnya tidak memenuhi syarat lagi. Oleh sebab itu kualitas–kualitas  perlu dilindungi dari pencemaran.




















III.         METODE KERJA

3.1       Waktu dan Tempat
Praktikum ini dilaksanakan pada hari Sabtu, 15 Oktober 2011, pukul 09.00-selesai  bertempat di Perairan Akkarena, dan  untuk uji Laboratorium dilaksanakan pada tanggal 20 Oktober 2011, di Laboratorium Oseanografi Kimia, Jurusan Ilmu Kelautan, Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan, Universitas Hasanuddin, Makassar.
3.2         Alat dan Bahan
Alat yang digunakan pada praktik Pencemaran Laut ini yakni: Botol BOD, pipet tetes, gelas ukur, Thermometer, pH meter, Erlemeyer, pemanas, kertas saring, oven, Filter Holder, Vaccum’pump, Desicator,Buret, Handrefractometer
Bahan yang digunakan yakni: aquades, larutan H2SO4 pekat, Natrium Tiosulfat (Na2SO), Larutan MnSO4 (Mangan sulfat), Larutan NaOH (Natrium  hidroksida) + KI, Larutan Amilum, Larutan Kalium dichromat (K2Cr2O7), Ferrous ammonium sulfat (FAS), Indikator Ferroin, tissue dan contoh air sampel.
3.3         Cara Kerja
3.3.1        Penentuan pH dan Suhu Air Laut
Menyiapkan alat yang akan kita gunakan untuk mengukur pH (pH meter), dan suhu (Thermometer), kemudian setelah itu bagian katoda dan anoda dari pH meter dicelupkan ke dalam air sampel kemudian membaca nilai ph sampel pada lat tersebut. Sedangkan pada pengukuran suhu, thermometer dicelupkan kedalam air sampel (hanya setengah) dan diamkan beberapa menit, kemudian baca nilai pada skala thermometer tersebut.
3.3.2        Penentuan BOD5
Memasukkan contoh air laut kedalam dua botol oksigen, mengukur kadar oksigen terlarut pada botol pertama (DOawal). Sedangkan ntuk mengukur DO5 maka sampel air yang terdapat dalam botol oksigen yang satu di inkubasi selama lima hari pada suhu 25o c. kemudian mengukur kadar oksigen terlarut pada botol oksigen gelap setelah inkubasi lima hari (DO akhir).


3.3.3        Penentuan Chemical Oxygen Demand (COD)
Memasukkan air sampel ke dalam Erlemeyer sebanyak 10 ml, setelah itu menambahakan 5 ml K2Cr2O7 0,025 N dan kemudian aduk. Setelah itu menambahkan dengan hati-hati 15 ml larutan H2SO4 pekat (digunakan ruang asam) dan ditutup dengan kaca arloji, didiamkan selama 30 menit. Setelah itu diencerkan dengan menggunakan aquades sebanyak 10 ml, setelah dingin kemudian menembahkan 2-3 indikator ferroin (terjadi perubahan warna), dititrasi dengan FAS hingga berwarna merah kecoklatan. Untuk larutan blanko digunakan sampel aquades.
3.3.4        Penentuan Nilai Total Suspended Solid (TSS)
Menyiapkan Erlemeyer filter, filter holder, kertas sarung dan vaccum pump, kemudian menyering 2 x 20 ml aquades (lanjutkan sampai 2-3 menit). Setelah itu lalu mengeringkan kertas filter didalam oven selama 1 jam dengan temperature 105oC, setelah itu didinginkan dalam desikator lalu di timbang. (hasil B mg). Untuk A mg, maka mengambil 1 liter air contoh kemudia disering dengan kertas saring lalu ditimbang. Setelahkering kertas saring tersebut diamasukkan kedalam oven selama 1 jam pada temperature 105oC, lalu didinginkan dalam diesikator, kenudianditimbang (A mg).
3.4            Analisis Data
3.4.1        Penentuan BOD5
Untuk menentukan BOD5  suatu perairan maka digunkan rumus:
BOD5 = (DOAwal – DOAkhir) x pengenceran
 


Dimana untuk mencari DO maka digunkan rumus:
Oksigen terlarut (DO) dalam mg/L =
Dimana:
A   = mL larutan baku natrium tiosulfat yang digunakan;
Vc = mL larutan yang dititrasi;
N   = kenormalan larutan natrium tiosulfat;
Vb = volume botol BOD

3.4.2        Penentuan Chemical Oxygen Demand (COD)
Untuk menentukan Chemical Oxygen Demand (COD)  suatu perairan maka digunkan rumus:
COD (mg/L) =
 



Dimana:
              B = Volume FAS yang digunakan untuk Larutan Blanko
              S = Volume FAS yang digunakan untuk contoh air (ml)
              N = Normalitas FAS
3.4.3        Penentuan Nilai Total Suspended Solid (TSS)
Untuk menentukan Total Suspended Solid (TSS) suatu perairan maka digunkan rumus:
TSS (mg/L) = (A – B)
 



Dimana:
                          A = Berat kertas Saring contoh air sampel
                          B = Berat kertas Saring Larutan Blanko

3.4.4 Data dianalisis dengan menggunakan Indeks Pencemaran menurut Kementrian Lingkungan Hidup (2006), yang persamaannya sebagai berikut:
Pij =  
Keterangan :
Pij =     indeks pencemaran bagi peruntukan (j) yang merupakan fungsi dari
Ci/Lij;
Lij =    konsentrasi parameter kualitas air yang dicantumkan dalam baku mutu suatu peruntukan air (j);
Ci =     menyatakan konsentrasi parameter kualitas air (i) yang diperoleh dari analisis cuplikan air pada suatu lokasi pengambilan cuplikan dari suatu alur sungai;
(C1 / Lij) m  = nilai, Ci/Lij maksimum
(C1 / Lij) R  = nilai, Ci/Lij rata–rata
Dengan evaluasi terhadap nilai PI adalah :
a.       0 – Pij – 1,0                 = memenuhi baku mutu
b.      1,0 < Pij – 5,0              = cemar ringan
c.       5,0 < Pij – 10               = cemar sedang
d.      Pij > 10                        = cemar berat






















IV.         HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1       Hasil
Tabel 1. Hasil praktikum lapang pada Perairan Akkarena yakni di dapatkan:
Stasiun *
Stasiun 2*
Stasiun 3*
TSS
0,043
0,043
0,043
COD
126
70
48
BOD5
103,65
126,9
39,05
pH
6,58
6,18
6,32
DO
5,586
4,880
3,904
Suhu
29oC
29oC
29oC
            *Prhitungan dapat dilihat di Lampiran

Maka tingkat pencemaran perairan laut menggunakan indeks pencemaran peruntukan wisata pada Perairan Akkarena yakni;

Tabel 2. Indeks Pencemaran Pengamatan Perairan Kawasan Wisata Akkarena Makassar
No
Stasiun
Indeks Pencemaran*
Keterangan
1.
Stasiun 1
11,579
Cemar berat
2.
Stasiun 2
10,783
Cemar berat
3.
Stasiun 3
11,015
Cemar berat
*Perhitungan dapat dilihat pada Lampiran 2
4.2       Pembahasan
4.2.1        Total Suspended Solid (TSS)
Padatan tersuspensi total ini dipengaruhi oleh bahan-bahan tersuspensi seperti lumpur, pasir, bahan organik dan anorganik, plankton serta organisme mikroskopik lainnya. Hasil pada praktik lapang didapat nilai TSS untuk ketiga stasiun adalah 0,043 mg/L, nilai ini menunjukkan keadaan air untuk parameter TSS masih dalam keadaan baik. Nilai ini masih dibawah baku mutu lingkungan yang berdasarkan PP No. 82 tahun 2001 untuk parameter TSS adalah 50 mg/L. Bila dilihat dari parameter TSS kawasan perairan Akkarena masih aman untuk kehidupan organisme. Menurut Alabaster dan Lloyd (1982) padatan tersuspensi bisa bersifat toksik bila dioksidasi berlebih oleh organisme sehingga dapat menurunkan konsentrasi oksigen terlarut sampai dapat menyebabkan kematian pada ikan. Padatan tersuspensi dapat berupa mineral atau bahan organik yang berasal dari erosi tanah, industri, pembuangan kotoran dan sampah yang dapat ditemukan di air permukaan.
4.2.2        Chemical Oxygen Demand (COD)
Hasil Praktik Lapang didapat nilai sampel air untuk parameter COD memiliki nilai yang berbeda tiap stasiun, dimana stasiun 1 yang memiliki nilai yang paling tinggi yaitu 126 mg/L. Jika dibandingkan dengan PP No. 82 tahun 2001 nilai dari parameter COD untuk kawasan wisata Akkarena sudah melebihi baku mutu, dimana untuk peruntukan daerah wisata nilai COD harus < 25 mg/L. Untuk melihat perbedaan tiap lokasinya dapat dilihat pada Gambar grafik dibawah ini.
Gambar grafik Nilai Parameter COD
            Menurut Effendi (2003) nilai COD yang tidak tercemar biasanya kurang dari 20 mg/L dan tingginya nilai COD juga menunjukkan tebalnya lapisan bahan organik yang ada di perairan sehingga dapat menyebabkan rendahnya kadar oksigen terlarut di perairan yang dibutuhkan oleh organisme untuk respirasi, keberadaan bahan organik dapat berasal dari alam, ataupun dari aktifitas rumah tangga dan industri, misalnya pabrik bubur kertas (pulp), pabrik kertas, dan industri makanan. Dari pernyataan diatas dapat dikatakan bahwa pada Stasiun 1 diperoleh nilai COD yang lebih tinggi dikarenakan tebalnya lapisan bahan organik pada lokasi tersebut.


4.2.3        Biochemical Oxygen Demand (BOD)
BOD menunjukkan jumlah oksigen yang dikonsumsi untuk respirasi mikroba aerob yang terdapat dalam botol BOD yang diinkubasi pada suhu sekitar 20 ºC selama lima hari, dalam keadaan tanpa cahaya. Pemeriksaan BOD diperlukan untuk menentukan beban pencemaran air buangan penduduk atau industri dan untuk mendesain sistem-sistem pengolahan biologis bagi air yang tercemar. Nilai BOD yang diperoleh untuk tiap-tiap lokasi dapat dilihat pada Tabel 1. Hasil praktikum lapang pada Perairan Akkarena.
Gambar Grafik Nilai Parameter BOD5
Hasil Praktik lapang nilai BOD5 memiliki nilai yang cukup tinggi yaitu untuk stasiun 2 memiliki nilai yang paling tinggi dari pada stasiun 1 dan stasiun 3 yaitu 126,9 mg/L, nilai BOD5 yang tinggi ini menunjukkan indikasi bahwa sudah terjadi pemakaian oksigen untuk proses biologis yang berlebihan, diantaranya untuk proses pembusukan sampah-sampah organik yang ada dalam badan air. Nilai BOD5 perairan dipengaruhi oleh suhu, densitas plankton, keberadaan mikroba, serta jenis kandungan bahan organik. Pada perairan alami, yang berperan sebagai sumber bahan organik adalah pembusukan tanaman. Perairan alami memiliki nilai BOD5 antara 0,5-7,0 mg/L (Jeffries dan Mills, 1996 dalam Effendi, 2003). Hasil BOD5 yang didapat dari Praktik Lapang lebih dari range tersebut yaitu > 20 mg/L, menurut Effendi (2003) jika perairan yang memiliki BOD5 lebih dari 10 mg/L dianggap telah mengalami pencemaran. Dengan demikian untuk parameter BOD5 kawasan wisata Akkarena Makassar perairannya sudah tercemar.


4.2.4        Derajat Keasaman (pH)
Hasil Praktik lapang menunjukkan bahwa pada ketiga stasiun memiliki derajat keasaman berturut-turut yang barkisar dari 6,58, 6,18, dan 6,32. Nilai yang masuk kedalam kategori asam ini sangat mempengaruhi biota akuatik, dimana menurut Effendi (2003) bahwa sebagian besar biota akuatik sensitif terhadap perubahan pH dan menyukai pH sekitar 7–8,5 dan untuk nilai pH 5,0–5,5 pengaruh umum yang terjadi adalah penurunan keanekaragaman dan komposisi jenis plankton, perifiton, dan bentos semakin besar, terjadi penurunan kelimpahan total biomassa zooplankton dan bentos, algae hijau berfilamen semakin banyak dan proses nitrifikasi terhambat. Nilai pH yang bersifat asam diduga berasal dari berbagai faktor, salah satunya yaitu adanya berbagai pembangunan pada daerah ini sehingga meghasilkan banyak tanah, missal tanah gambut dan lain-lain.
Mackereth et al (1989) dalam Effendi (2003) berpendapat juga bahwa pH juga berkaitan erat dengan karbondioksida dan alkalinitas. Pada pH < 5, alkalinitas dapat mencapai nol. Semakin tinggi pH, semakin tinggi pula nilai alkalinitas dan semakin rendah kadar karbondioksida bebas. Larutan yang bersifat asam (pH rendah) bersifat korosif. Hal ini sesuai dengan penemuan di lapangan bahwa fasilitas-fasilitas yang ada pada perairan wisata Akkarena Makassar yang terbuat dari logam/besi mengalami karat, ini membuat fasilitas tersebut terlihat tidak bagus.
4.2.5        Oksigen Terlarut (DO)
Dari hasil praktikum yang di lakukan  didapatkan hasil Oksigen Terlarut pada perairan Wisata Akkarena di tiga stasiun secara bertrut-turut yakni 5,58 mg/L, 4,88 mg/L, dan 3,90 mg/L. Dengan hasil tersebut dapat dikatakan bahwa perairan wisata Akkarena Makassar merupakan perairan dengan kategori tercemar berat dengan kisaran 3,5 – 6,5 mg/l. Dari hasil ini membuktikan bahwa Perairan wisata Akkarena Makassar telah tercemar oleh karena aktivitas manusia  seperti pembuangan limbah rumah tangga, limbah kapal, pembangunan pemukiman di sekitar perairan yang mengakibatkan laju sedimentasi yang tinggi pada daerah ini. Hal ini dapat pula di lihat dengan kandungan lumpur yang sangat tinggi. Secara fisik dapat dilihat dengan kekeruhan airnya pada saat pengambilan sampel. Hasil ini pun dapat dijadikan indokator bahwa perairan ini akan mempengaruhi kehidupan organisme.
4.2.6        Suhu
Hasil analisis sampel air terhadap parameter yang diamati dalam praktikum  ini , dapat dilihat pada Tabel 1.  Untuk parameter suhu menunjukkan bahwa suhu air pada 3 stasiun adalah sama, yakni 29 oC. Hal ini sesuai yang dikatakan pula oleh  Effendi (2003) suhu optimum bagi pertumbuhan fitoplankton yaitu 20 – 30 0C.  Suhu merupakan salah satu indikator penting dalam menentukan kualitas air, karena memiliki hubungan erat dengan jumlah oksigen terlarut dan kecepatan reaksi kimia (Fardiaz, 1992).






















V.       SIMPULAN DAN SARAN
5.1       Simpulan
Berdasarkan hasil praktikum terhadap analisis kualitas air di kawasan wisata Akkaerana Makassar, dapat disimpulkan sebagai berikut :
1.           Kualitas air kawasan wisata Akkarena Makassar pada Praktikum untuk parameter pH, BOD dan COD telah melewati baku mutu lingkungan berdasarkan PP No. 82 tahun 2001 dan untuk parameter suhu, dan TSS masih sesuai dengan baku mutu lingkungan berdasarkan PP No. 82 tahun 2001.
2.           Status mutu kualitas air berdasarkan nilai indeks pencemaran untuk kawasan perairan wisata Akkarena Makassar adalah ; Stasiun 1 adalah 11,579, Stasiun 2 adalah 10,783, Stasiun 3 adalah 11,015, ketiga Stasiun ini termasuk kedalam kategori cemar berat.
5.2       Saran
Untuk pengelola kawasan wisata Akkarena makassar perlu pengadaan tempat sampah dan mengadakan kegiatan rutin pembersihan sampah pada permukaan air di kawasan wisata ini agar tetap bersih.













DAFTAR PUSTAKA
Alabaster, JS dan R Lloyd. 1982. Water Quality Criteria for Freshwater Fish. Second Edition. Food and Agriculture Organization of United Nations. Butterworths. London.

Bapedalda. 2005. Laporan Status Mutu Lingkungan Hidup Daerah. Bapedalda. Dumai.

                 . 2006. Dampak Lingkungan Perairan Laut dan Udara Akibat Industri Kota Dumai. Bapedalda. Dumai.

BKSDA. 2000. Rencana Pengelolaan Kawasan Hutan Wisata Sungai Dumai. BKSDA. Riau

Dirjen Pengairan  Departemen Pekerjaan Umum. 1991. Pedoman Pengamatan Kualitas Air. Departemen Pekerjaan Umum. Jakarta

Effendi, H. 2003. Telaah Kualitas Air Bagi Pengelolaan Sumber Daya dan Lingkungan Perairan. Kanisius. Yogyakarta

Fardiaz, S. 1992. Polusi Air dan Udara. Kanisius. Yogyakarta.

Hadi, A. 2005. Prinsip Pengelolaan Pengambilan Sampel Lingkungan. Gramedia Pustaka. Jakarta.

Hutabarat dan Evans.  2002.   Pengantar Oceanografi.  Universitas Indonesia, Jakarta.

Kementerian Lingkungan Hidup. 2006. Himpunan Peraturan Perundangan – Undangan di Bidang Pengelolaan Lingkungan Hidup. Kementerian Lingkungan Hidup. Jakarta.

Kodoatie, R.J. et al. 2005. Pengelolaan Sumber Daya Air Terpadu. Andi. Yogyakarta.

Nybakken, J.W. 1992. Biologi Laut, Suatu Pendekatan Ekologis. PT Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.

Pramudianto, Bambang, 1999, Sosialisasi PP No.19/1999 tentang Pengendalian Pencemaran dan atau Perusakan Laut, Prosiding Seminar Sehari Teknologi dan Pengelolaan Kualitas Lingkungan Pesisir dan Laut, Bandung: Jurusan Teknologi Lingkungan ITB.

Rohmitarto, K. 1991. Pengantar Pemantauan Pencemaran Laut. P3O-LIPI. Jakarta.
Sastrawijaya dan A. Tresna. 1991. Pencemaran Lingkungan. Rineka Cipta. Jakarta.


















Tidak ada komentar:

Posting Komentar