Jumat, 11 November 2011

Tugas Mikrobiologi Mikroba



Aspek fisiologi mikroba dalam degradasi limbah organik dilaut.
Degradasi senyawa kimia oleh mikroba di lingkungan merupakan proses yang sangat penting untuk mengurangi kadar bahan-bahan berbahaya di lingkungan, yang berlangsung melalui suatu seri reaksi kimia yang cukup kompleks. Dalam proses degradasinya, mikroba menggunakan senyawa kimia tersebut untuk pertumbuhan dan reproduksinya melalui berbagai proses oksidasi (Munir, 2006).
Tanpa adanya mikroba, proses penguraian di lingkungan tidak akan berlangsung. Kotoran, sampah, hewan, dan tumbuhan yang mati akan menutupi permukaan bumi, suatu kondisi yang tidak akan pernah kita harapkan. Sebagai akibatnya, siklus nutrisi atau rantai makanan akan terputus (Munir, 2006).
Lintasan biodegradasi berbagai senyawa kimia yang berbahaya dapat dimengerti berdasarkan lintasan mekanisme dari beberapa senyawa kimia alami seperti hidrokarbon, lignin, selulosa, dan hemiselulosa. Sebagian besar dari prosesnya, terutama tahap akhir metabolisme, umumnya berlangsung melalui proses yang sama. Polimer alami yang mendapat perhatian karena sukar terdegradasi di lingkungan adalah lignoselulosa (kayu) terutama bagian ligninnya (Munir, 2006).
Lignin adalah polimer alami dan tergolong ke dalam senyawa rekalsitran karena tahan terhadap degradasi, atau tidak terdegradasi dengan cepat di lingkungan. Molekul lignin adalah senyawa polimer organik kompleks yang terdapat pada dinding sel tumbuhan dan berfungsi memberikan kekuatan pada tanaman. Lignin tersusun dari 3 jenis senyawa fenilpropanoid, yaitu: alkohol kumaril, alkohol koniferil, dan alkohol sinapil. Ketiganya tersusun secara random membentuk polimer lignin yang amorfus (tidak beraturan), seperti terlihat pada Gambar 1 (Higuchi, 1980 dalam Munir, 2006).





Gambar 1. Skema Struktur Lignin Tanaman Spruce
Jamur basidiomisetes merupakan kelompok utama pendegradasi lignoselulosa. Walaupun beberapa bakteri diketahui dapat mendegradasi lignin, tetapi bakteri yang mampu mendegradasi lignin secara kompleks belum pernah dilaporkan. Jamur pembusuk kayu menghasilkan enzim-enzim pendegradasi lignoselulosa seperti golongan selulase, ligninase, dan hemiselulase (Munir, 2006).
Berdasarkan mekanisme degradasi, jamur pembusuk kayu digolongkan ke dalam jamur pembusuk putih dan jamur pembusuk cokelat, yang masing-masing memiliki metabolisme degradatif yang berbeda. Jamur busuk putih mampu mendegradasi seluruh komponen material lignoselulosa termasuk lignin, sedang jamur busuk cokelat lebih cenderung mendegradasi bagian selulosa dan hemiselulosa tetapi tidak lignin (Green and Highley, 1997dalam Munir, 2006).
Penggunaan kultur campuran antara jamur pembusuk putih dan jamur pembusuk cokelat memiliki prospek yang cukup tinggi untuk mendapatkan glukosa alternatif dari material lignoselulosa (Munir dan Goenadi, 1999 dalam Munir, 2006). Cooke and Rayner (1984) dalam Munir (2006), jamur basidiomisetes dan askomisetes memiliki peran yang utama dalam degradasi lignoselulosa yang setiap tahunnya diperkirakan terbentuk sebanyak 100 gigaton, di mana 20 gigatonnya adalah lignin.
Pada Gambar 1 terlihat monomer-monomer pembentuk lignin tersusun secara tidak beraturan sehingga sukar untuk didegradasi oleh mikroba, seperti halnya pada degradasi molekul selulosa dan kitin. Suatu pendapat menyatakan bahwa jamur busuk putih mendegradasi lignin adalah untuk mendapatkan selulosa dari material lignoselulosa. Ketidakteraturan struktur lignin ini menyebabkan proses degradasi menjadi sangat kompleks, dan enzim-enzim yang berperan dalam degradasi lignin bekerja secara nonspesifik. Proses ini berlangsung melalui pembentukan radikal-radikal bebas yang dapat menyerang sejumlah besar molekul organik. Hal ini menyebabkan jamur pendegradasi lignin mendapat perhatian yang sangat besar dalam biodegradasi berbagai jenis polutan organik (Munir, 2006)
Filed et al. (1993); Evans et al. (1994) dalam Munir (2006) menyatakan bahwa kelompok peroksidase (lignin peroksidase [LiP] dan manganese peroksidase [MnP]) yang menggunakan H2O2 dan lakase (polifenol oksidase) yang menggunakan molekul oksigen berperan dalam degradasi lignin. Gambar 2 berikut menunjukkan seri oksidasi lignin atau hidrokarbon poliaromatik (PAH). Radikal alkohol veratril (VA+.) yang dihasilkan adalah sebagai produk utama oksidasi H2O2 yang dikatalisis oleh LiP
.






Gambar 2. Oksidasi Lignin atau PAH yang Diperantarai oleh Alkohol Veratril (VA) (Harvey et al. 1992 dalam Munir, 2006)
Dalam proses degradasi lignoselulosa, jamur busuk cokelat menghasilkan sejumlah besar asam oksalat (COOH)2. Hal ini menyebabkan turunnya pH lingkungan yang cukup drastis, yang selanjutnya menyebabkan hidrolisis selulosa secara nonenzimatik (Shimada et al. 1991 dalam Munir, 2006). Proses ini sangat penting karena aktivitas enzim selulase belum dapat berlangsung sempurna karena enzim ini tidak dapat menembus pori-pori dinding sel yang ukurannya lebih kecil dari ukuran enzim (Munir, 2006).
Baru-baru ini telah ditemukan proses biosintesis asam oksalat oleh jamur pembusuk cokelat. Biosintesis asam oksalat merupakan proses fisiologis yang sangat penting bagi jamur, di mana jamur memperoleh energi dengan mengoksidasi karbohidrat menjadi asam oksalat (Munir et al. 2001a dalam Munir, 2006), seperti yang terlihat dalam persamaan reaksi berikut:

Karena kemampuannya dalam mendegradasi berbagai senyawa aromatik, jamur pendegradasi lignin telah mendapat perhatian besar dalam bidang bioremediasi. Sistem degradasi enzimatis ekstraseluler menyebabkan jamur busuk putih lebih toleran terhadap konsentrasi polutan toksik yang lebih tinggi. Selanjutnya, mekanisme degradasi nonspesifik yang dimiliki oleh jamur pembusuk putih menyebabkan mereka mampu mendegradasi sejumlah besar polutan. Keunggulan lain dari jamur pembusuk putih dalam degradasi polutan adalah mereka tidak memerlukan pengkondisian untuk polutan tertentu, karena kekurangan nutrien dapat menginduksi proses degradasi. Di samping itu, induksi sintesis enzim-enzim pendegradasi polutan biasanya tidak terpengaruh oleh banyak sedikitnya polutan (Barr and Aust, 1994 dalam Munir, 2006)


Aspek metabolisme mikroba laut dalam kaitannya dengan inuasi ke organisme inang!!
Dalam kehidupan, mahluk hidup memerlukan energy yang diperoleh dari proses metabolisme. Metabolisme terjadi pada semua mahluk hidup termasuk kehidupan mikroba. Pada hewan atau tumbuhan yang berderajat tinggi enzim yang di sediakan untuk keperluan metabolisme reatif stabil, selama terjadi perkembangan individu memang terjadi perubahan susunan enzim, akan tetapi pada pergantian lingkungan perubahan itu sangat kecil. Metabolisme merupakan serentetan reaksi kimia yang terjadi dalam sel hidup (Bibiana W. Lay, 1992 dalam Indiarti 2009).
Dalam metabolisme ada dua fase yaitu katabolisme dan anabolisme. Metabolime ini selalu terjadi dalam sel hidup karena di dalam sel hidup terdapat enzim yang diperlukan untuk membantu berbagai reaksi kimia yang terjadi. Suatu proses reaksi kimia yang terjadi dapat menghasilkan energi dan dapat pula memerlukan energi untuk membantu terjadinya reaksi tersebut.
Menurut Indiarti (2009) bila dalam suatu reaksi menghasilkan energi maka disebut reaksi eksergonik, dan apabila untuk dapat berlangsungnya suatu reaksi diperlukan energi, reaksi ini disebut reaksi endergonik. Kegiatan metabolisme meliputi proses perubahan yang dilakukan untuk sederetan reaksi enzim yang berurutan. Secara singkat kegiatan proses ini disebut tansformasi zat. Hasil kegiatan ini akan dihasilkan nutrien sederhana seperti glukosa, asam lemak berantai panjang atau senyawa-senyawa aromatik yang dapat digunakan sebagai bahan untuk proses neosintetik bahan sel.
Proses metabolisme akan menghasilkan hasil metabolisme yang berfungsi menghasilkan sub satuan makromolekul dari hasil metabolisme yang berguna sebagai penyediaan tahap awal bagi komponen-komponen sel menghasilkan dan menyediakan energi yang dihasilkan dari ATP lewat ADP dengan fosfat. Energi ini sangat penting untuk kegiatan proses lain yang dalam prosesnya hanya bisa berlagsung kalau tersedia energi.
Semua reaksi kimia yang terjadi dalam organisme hidup untuk memperoleh dan menggunakan energi, sehingga organisme dapat melaksanakan berbagai fungsi hidup. Metabolisme terdiri dari dua proses yang berlawanan yang terjadi secara simultan. Reaksi tersebut adalah:
1.   Sintesis protoplasma dan penggunaan energi yang disebut sebagai anabolisme.
2.   Oksidasi substrat diiringi dengan terbentuknya energi disebut dengan katabolisme.
Pada umumnya mikroba hidup pada berbagai habitat. Mikroba ditemukan di mana-mana, misalnya di tanah, air laut, udara, sisa makhluk hidup, dan dalam tubuh organisme lain. Umumnya mikroba hidup pada lingkungan yang lembab atau agak basah, dengan temperatur 25 - 37°C. Lingkungan tersebut merupakan kondisi optimal untuk perkembangbiakan bakteri dengan cepat. Klasifikasi Eubacteria dikelompokkan menjadi lima filum, yaitu Proteobacteria, Cyanobacteria, Spirochetes, Chlamydias, dan bakteri Gram-Positif. Proteobacteria Proteobacteria merupakan kelompok terbesar bakteri. Proteobacteria dikelompokkan menjadi bakteri ungu yang bersifat fotoautotrof atau fotoheterotrof, proteobacteria kemoautrotrof, dan proteobacteria kemoheterotrof. Bakteri ungu mengandung klorofil yang terdapat pada membran plasma. Beberapa jenis bakteri ungu memiliki flagela. Sebagian besar bakteri ungu anaerob obligat dan hidup di endapan kolam, danau, atau lumpur. Contoh bakteri ungu adalah Chromatium. Proteobacteria kemoautotrof hidup bebas atau bersimbiosis dengan makhluk hidup lain.
Berdasarkan kebutuhan oksigen untuk merombak makanannya agar memperoleh energi, bakteri dapat dibedakan menjadi bakteri aerob dan bakteri anaerob.  Bakteri Aerob Bakteri aerob adalah bakteri yang membutuhkan oksigen bebas untuk memperolch energinya. Contoh bakteri aerob adalah Nitrosomonas, Nitrosococcus, trosococcus, dan Nitrobacter. Nitrosomonas dan Nitrosococcus (bakteri nitrit) adalah bakteri yang mengoksidasi amonia (Nil). Prosesnya adalah sebagai berikut.
2NH 3 + 30 2 2HNO 2 + 2H 2 0 + energi (amonia) (nitrit).
 Nitrobacter (bakteri nitrat) adalah bakteri yang mengoksidasi ion nitrit (HNO 2 ) yang cukup banyak terdapat dalam laut. Prosesnya adalah sebagai berikut.
2HNO2 + O2 - 2HNO3 (nitrit) (nitrat)
Bakteri anaerob adalah bakteri yang tidak membutuhkan oksigen bebas untuk memperoleh energinva. Energy diperoleh dari proses perombakan senyawa organik tanpa menggunakan oksigen yang disebut fermentasi. Bakteri anaerob dibedakan menjadi anaerob obligat dan anaerob fakultatif.
Bakteri anaerob obligat hanya dapat hidup jika tidak ada oksigen. Oksigen merupakan racun bakteri anaerob obligat. Contohnya adalah Micrococcus deintrificans, Clostridium botulinum, dan Clostridium tetani.
Bakteri anaerob fakultatif dapat hidup jika ada oksigen maupun tidak ada oksigen. Contoh bakteri anaerob fakultatif adalah Escherichia colli dan Lactobacillus. Reproduksi
Bakteri yang terdapat di dalam laut contohnya Pseudomonas sp., umumnya melakukan reproduksi atau berkembang biak secara aseksual (Vegetatif=tak kawin) dengan membelah diri. Pembelahan set pada bakteri laut adalah pembelahan biner, yaitu setiap sel membelah menjadi dua. Beberapa jenis bakteri laut dalam lingkungan yang sesuai dapat membelah setiap 20 menit.
Selain reproduksi secara aseksual, bakteri laut juga melakukan reproduksi secara seksual, yaitu dengan pertukaran materi genetik dengan bakteri lainnya. Pertukaran materi genetik disebut rekombinasi genetik atau rekombinasi DNA. Rekombinasi genetik menghasilkan dua sel bakteri yang masing-masing memiliki kombinasi materi genetik dari dua sel induk. Rekombinasi genetik pada bakteri dapat dilakukan dengan tiga cara, yaitu transformasi, transduksi, dan konjugasi.
Transformasi adalah masuknya DNA telanjang ke dalam sel bakteri dan mengubah sifat sel bakteri. Bakteri yang melakukan transformasi contohnya adalah Streptococcus pneumoniae, Neisseria gonorrhoeae, Bacillus, dan Rhizobium.
Transduksi adalah pemindahan materi genetik satu sel bakteri ke sel bakteri lainnya dengan perantara organisme, lain yaitu bakteriofage (virus bakteri).
Konjugasi adalah pemindahan materi genetik secara langsung melalui kontak sel dengan membentuk struktur seperti jembatan di antara dua sel bakteri yang berdekatan. Konjugasi umumnya terjadi pada bakteri Gram negatif, misalnya Escherichia coli.
Salah satu bakteri yang terdapat dalam laut yaitu Bakteri halofil. Bakteri halofil adalah bakteri yang hidup di lingkungan dengan kadar garam tinggi. Bakteri halofil hidup optimal pada lingkungan dengan kadar garam 20%. Beberapa jenis bakteri halofil membutuhkan lingkungan dengan kadar garam 10 kali lebih tinggi dari kadar garam air laut.
Contoh lainnya yaitu Bakteri termoasidofil Bakteri ini hidup di lingkungan ekstrim yang panas dan asam. Kondisi optimal untuk bakteri ini adalah pada temperatur 60-80 ̊ C dengan pH 2-4. Bakteri ini terdapat pada daerah yang mengandung asam sulfat misalnya di kawah vulkanik.
*      Interaksi antar berbagai macam populasi mikroba
Hubungan antara dua organisme yang berbeda ada berbagai bentuk diantaranya apabila salah satu dari organisme sangat tergantung dengan kelangsungan hidup organisme yang lain maka disebut sebagai parasitic. Bentuk hubungan parasitic diantaranya adalah simbiosis, mutualistik bila kedua belah pihak saling diuntungkan. Komensalis bila salah satu diuntungkan sedang yang lain tidak dirugikan. Bila salah satu hanya bisa hidup dalam organisme lain dan berdampak merugikan bagi organisme yang ditempati maka disebut sebagai obligat parasitic. Hal ini berlaku juga pada hubungan vertebrata dengan mikroorganisme khususnya bakteri. Bakteri seperti Escherichia coli non patogen dan lactobacillus tertentu merupakan penghuni saluran usus halus yang hidup dari inang dan menguntungkan inang karena membantu sintesa beberapa vitamin seperti vit K, vit B2 yang dibutuhkan oleh inang. Beberapa bakteri dari golongan kokus seperti Staphylococcus epidermidis merupakan flora normal pada kulit manusia yang mendapatkan makanan dari inang (kulit manusia) tetapi tidak merugikan bagi manusia. Banyak bakteri yang merupakan parasit obligat pada saluran usus manusia dan hewan mamalia seperti Salmonella typhimurium, Escherichia coli strain patogen (ETEC, EPEC EIEC) merupakan penyebab typhus dan diare.
Bakteri- bakteri tersebut menetap di lokasi tersebut untuk mendapatkan sumber makanan, sehingga mampu tumbuh dan perkembang biak. Bakteri mempunyai kemampuan untuk berkembang biak dan menyebar dari inang ke inang yang lain dengan dua cara yaitu :
1. Secara horisontal pada satu spesies dengan cara kontak langsung antara individu sehat dengan individu sakit, makanan yang tercemar, debu, sekreta penderita, melalui gigitan nyamuk
2. Secara vertikal pada satu spesies : dari induk ke anak yang dikandung, melalui telur, air susu. Contoh Salmonellosis pada ayam akan ditularkan melalui telurnya. Interaksi antara mikroorganisme dengan inang sangat dipengaruhi oleh kemampuan mikroorganisme masuk kedalam tubuh inang dan menyebabkan kerusakan pada jaringan inang. Mikroorganisme khususnya bakteri mempunyai beberapa mekanisme untuk dapat melakukannya yaitu dengan :
a)    kemampuan menginfeksi inang
b)    kemampuan melakukan invasi (penyebaran ke dalam jaringan inang)
c)    Kemampuan patogenitas ( kemampuan merusak jaringan inang
d)    Toksinegenitas (kemampuan memproduksi toksin)
Infeksi merupakan kemampuan mikroorganisme masuk dan berkembang biak dalam tubuh inang. Bakteri mempunyai cara untuk dapat masuk tubuh inang dan bertahan dalam tubuh inang setelah dapat melewati :1. Menembus barrier tubuh inang bagian luar dan mampu masuk ke dalam sel inang,2. Mampu bertahan dan berkembang biak di dalam sel inang
Toksin bakteri patogen mempunyai kemampuan memproduksi toksin yg berfungsi sebagai alat utk merusak sel inang dan mendapatkan nutrisi yang diperlukan dari sel inangnya.
Secara umum dapat dibedakan 2 macam berdasarkan proses pembentukan toksin oleh bakteri yaitu endotoksin dan eksotoksin. Perbedaan eksotoksin dan endotoksin yakni:


Eksotoksin
Endotoksin
·        Diproduksi oleh sel bakteri hidup, konsentrasinya tinggi dlm media cair
·        Tersusun atas molekul polipeptida,
·        Relatif tidak stabil pada pemanasan; rusak pd >600C, toksin akan kehilangan daya toksisitasnya.
·        Bersifat antigenik; mampu menstimulasi membentukan antibodi. Mampu merangsang pembentukan antitoksin
·        Bisa dibuat toksoid dgn. Penambahan formalin, asam, pemanasan dll.
·        Mempunyai sifat toksisitas tinggi, fatal pd hewan coba pd dosis yg sangat kecilDosis rendah sdh mampu menimbulkan gejala
·        Tidak menimbulkan demam pada inang
·    Diproduksi oleh sel bakteri yang telah mati
·    Tersusun atas lipopolisakarida kompleks, dimana gugus lemak mrpk penentu tingkat toksisitasnya

·    Masih stabil pd 600C selama 2 jam tanpa mengubah daya toksisitasnya

·    Tidak bersifat antigenik, tidak mampu menstimulasi pembentukan antitoksin. Hanya mampu membentuk antibodi terhadap gugus polisakaridanya

·    Tidak dapat dibuat toksoid

·    Lebih ringan, pd dosis tinggi fatalDiperlukan dosis tinggi untuk dapat menimbulkan gejala

·    Menimbulkan demam pd inang




DAFTAR PUSTAKA
Indiarti, 2009. Metabolisme Bakteri. http://agushome.blogspot.com/2009/07/ metabolisme-bakteri.html. [Diakses pada tanggal 29 April 2011].

Mahatmi, H 2007. Bakteriologi Veteriner. (online). http://staff.unud.ac.id/~mahatmi/?page_id=6. [Diakses pada tanggal 02 Mei 2011].

Melani, Tyas, 2009. Metabolisme Bakteri dan Fungi. http://www.scribd.com/doc/ 9680543/Metabolisme-Bakteri-Dan-Fungi. [Diakses pada tanggal 29 Aril 2011 ].
Munir, Erman. 2006. Pemanfaatan Mikroba Dalam Bioremediasi : Suatu Teknologi Alternatif Untuk Pelestarian Lingkungan. Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Sumatera Utara. http://aa.wrs.yahoo.com/_ylt=A3xsfC1aNAJMJCcBbADLQwx.;_ylu=X3oDMTByaW1zcjRxBHNlYwNzcgRwb3MDMQRjb2xvA3NnMQR2dGlkAw--/SIG=12sji7ksp/EXP=1275299290/**http%3a//www.usu.ac.id/id/files/pidato/ppgb/2006/ppgb_2006_erman_munir.pdf. [Diakses tanggal 29 April 2011]

Priani, Nunuk, 2003. Metabolisme Bakteri. http://repository.usu.ac.id/bitstream /123456789/818/1/biologi-nunuk1.pdf. [Diakses pada tanggal 29 April 2011].



Tidak ada komentar:

Posting Komentar